Mampukah teknologi meminimalisir dampak bencana alam ?

Di penghujung akhir tahun 2018 dan awal tahun 2019 merupakan sebuah ujian bagi Indonesia, dimana bencana terus menerus menghantam negeri tercinta kita. Mengakibatkan banyak kerusakan harta benda serta korban jiwa. Lalu apakah peran Teknologi mampu untuk meminimalisir dampak dari sebuah bencana ?

Intro Cover Baliwirama

Berkaca pada 2 Maret 2016 lalu, ketika sebagian dari kita mulai beristirahat melepas penat di rumah. Tiba-tiba beredar berita melalui media sosial mengabarkan peringatan dini kemungkinan terjadinya tsunami di Mentawai (Sumatera Barat). Semua yang menerima kabar tersebut segera meneruskannya kepada orang lain. Esok harinya (3/3) media memberitakan sempat terjadi kepanikan warga, dan mereka berbondong-bondong menjauh dari pantai. Menariknya, berita peringatan tsunami beredar hanya dalam waktu 3 menit setelah waktu terjadinya gempa 8,3 SR yang bisa menjadi pemicu tsunami. Jika saat itu benar-benar terjadi tsunami, masyarakat masih punya cukup waktu untuk menyelamatkan diri karena jeda antara gempa dan tsunami umumnya 20 menit sampai 2 jam. Bandingkan dengan bencana tsunami Aceh pada 2004 yang banyak menelan korban jiwa. Saat itu, warga tidak mengerti ancaman bahaya yang akan terjadi. Alih-alih menyelamatkan diri, beberapa orang malah mendekat ke pantai karena mereka melihat fenomena yang sangat unik, yaitu air laut yang surut dengan cepat. Terlepas bahwa itu ialah ketetapan Tuhan Yang Mahakuasa, kita bisa berusaha untuk memperkecil dampak negatif dan mengurangi jumlah korban jiwa akibat bencana.

Museum di Amerika

Ada sebuah pameran di Museum Gedung Nasional Washington, mengajarkan bagaimana pemerintah dan individu bisa mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh bencana alam dengan teknologi, baik yang murah maupun mahal bisa menyelamatkan harta benda bahkan nyawa. Kurator pameran Chrysanthe Broikos mengatakan, gedung-gedung dan struktur besar bisa bertahan terhadap gempa bumi yang kuat sekalipun, jika dibangun dengan fleksibilitas tertentu.
Tembok Penahan Tsunami Jepang

Di Jepang, semua bangunan yang akan dibangun harus mengkuti aturan yang ditetapkan pemerintah. Bangunan yang dibuat harus memenuhi dua syarat yaitu bangunan dijamin tidak akan runtuh karena gempa bumi dalam 100 tahun kedepan dan dijamin tidak akan rusak dalam 10 tahun pembangunan. Selain bangunan tahan gempa, Pemerintah jepang juga membangun dinding penahan tsunami. Dinding penahan tsunami ini jika memiliki panjang sekitar 395 km dan tinggi sekitar 12,5 meter. Selain itu semua handphone di Jepang memiliki sistem peringatan gempa/tsunami yang dipasang. Sistem ini akan memberi peringatan sekitar 5 hingga 10 detik sebelum bencana terjadi, peringatan juga akan memberi tambahan waktu untuk melarikan diri ke tempat aman atau berlindung dibawah meja.
Bunker bawah tanah disebuah rumah di Amerika
Sedangkan di amerika, sebuah negara yang berlangganan dengan angin topan melengkapi sebagian besar bangunannya dengan bunker. Yang memungkinkan diri kita dapat berlindung dari bencana tersebut. Amerika Serikat juga selalu memberi peringatan awal melalui alarm dan broadcast jika bencana terjadi agar warga sekitar memiliki waktu menyelamatkan diri.
Bunker Office

Berbeda dengan negara lain yang hanya fokus pada keselamatan warganya, Selandia Baru justru menggunakan pendekatan yang berbeda. Mereka membangun Beehive Bunker, sebuah bunker yang ditujukan untuk menampung para pekerja pemerintah agar selama bencana terjadi mereka tetap dapat bekerja menjalankan tugasnya untuk kepentingan warga atau apapun yang perlu dilakukan. Mereka tidak ingin membiarkan pemerintah lumpuh selama bencana terjadi. Dilansir dari Stuff.com, pada gempa Christchurch tahun 2011, bunker ini digunakan sebagai pusat pengendali penanganan bencana, mulai dari tempat pengungsian untuk warga, tempat kementerian terkait menjalankan tugas, serta tempat distribusi informasi bagi media. Selama tidak terjadi bencana, bunker ini digunakan untuk berbagai upaya simulasi serta sosialisasi tentang bencana pada warga dan pihak terkait.

Bencana alam memang tidak bisa diprediksi kapan datangnya. Namun dengan adanya campur tangan teknologi, setidaknya bisa mengurangi dampak dan korban jiwa.

Sumber Artikel :
https://www.voaindonesia.com/a/designing-for-disaster-helps-save-lives-property-/1947113.html
http://mediaindonesia.com/read/detail/36365-integrasi-teknologi-untuk-mengurangi-dampak-bencana
https://www.idntimes.com/hype/fun-fact/dwi-ayu-silawati/5-negara-dengan-sistem-penanggulangan-bencana-c1c2/full
https://www.wowmenariknya.com/life/melihat-kokohnya-dinding-anti-tsunami-di-jepang/
https://www.liputan6.com/health/read/3611312/5-cara-jepang-menghadapi-bencana

SHARE

About Bali Wirama

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment